Kami Ingin Tim Nasional Menjadi Sebuah Keluarga: De la Fuente Bicara Soal Harapan Spanyol di Piala Dunia

Kami Ingin Tim Nasional Menjadi Sebuah Keluarga: De la Fuente Bicara Soal Harapan Spanyol di Piala Dunia

Dengan sikap ramah, hangat, senyuman lebar, dan keyakinan tenang seperti seseorang yang telah menghabiskan lebih dari satu dekade membangun timnya sedikit demi sedikit, ia menuju Piala Dunia bersama skuad yang dianggap banyak pihak sebagai tim yang patut diwaspadai.

De la Fuente, yang berbicara kepada Reuters sebelum berangkat ke Amerika Utara, mengatakan bahwa rahasia kebangkitan juara Eropa ini bukan semata karena jalur taktis yang jelas, pidato motivasi, atau kejeniusan satu orang, melainkan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih hangat.

"Beberapa waktu lalu, kami mulai menekankan sebuah kata yang memberi kami rasa aman, percaya diri, dan kekuatan yang luar biasa yaitu 'keluarga'. Kami ingin tim nasional Spanyol menjadi sebuah keluarga," ujarnya.

"Mulai dari pemain pertama hingga pemain terakhir, kami semua bekerja dengan ide itu di benak kami dan itu membuat saya merasa sangat tenang, sangat damai. Itu membuat saya bekerja dengan kesadaran bahwa saya berada di lingkungan yang baik dan itu memberi saya kepercayaan diri yang besar."

Kata itu telah menjadi tulang punggung tim Spanyol asuhannya: sebuah kelompok yang tidak hanya diikat oleh bakat, tetapi juga oleh tahun-tahun berbagi ruang ganti, turnamen junior, kekecewaan, trofi, dan kepercayaan.

Perjalanan Panjang dan Tidak Biasa De La Fuente ke Puncak

Perjalanan De la Fuente ke puncak memang panjang dan tidak biasa. Ia dulunya adalah bek sayap pekerja keras yang namanya dikenal di Negeri Basque bersama Athletic Bilbao, dan membangun karier kepelatihannya sebagian besar jauh dari sorotan sepak bola klub, dengan menghabiskan satu dekade di dalam sistem pembinaan usia muda Spanyol.

Ketika ia ditunjuk sebagai manajer Spanyol lebih dari tiga tahun lalu, sebagian media mengejeknya dengan sebutan "Luis de la Siapa?" Banyak yang menganggapnya sebagai pria federasi yang rendah hati, rapi dan tekun, tetapi tanpa pesona yang biasanya dituntut dari pekerjaan sebesar itu.

Jawabannya telah terbukti tegas: gelar Nations League pada tahun 2023, Kejuaraan Eropa pada tahun 2024, dan tim Spanyol yang tiba di Piala Dunia dengan membawa kepercayaan diri dari tim yang benar-benar tahu jati dirinya.

Seorang Katolik yang taat dan berusaha hidup sesuai dengan imannya, De la Fuente mengatakan bahwa ia tidak tertarik untuk menyelesaikan dendam lama.

"Waktu membuktikan Anda benar dan waktu membuktikan Anda salah. Waktu menempatkan setiap orang pada tempatnya. Saya tahu apa yang harus saya lakukan," katanya.

"Saya bukan orang yang pendendam dan saya percaya setiap orang harus merenungkan apa yang mungkin telah mereka katakan atau lakukan dan menilainya. Saya tidak berubah sedikit pun sejak saat itu. Saya masih orang yang sama, percayalah ... Hidup saya tidak berubah.

"Saya masih melakukan hal yang persis sama seperti yang saya lakukan tiga setengah tahun lalu. Saya pergi ke tempat yang sama, saya pergi ke restoran yang sama, kafe yang sama, saya berjalan di jalan dengan tenang melakukan hal yang persis sama."

Keunggulan Terbesar De La Fuente

Jika orang lain perlu diyakinkan, para pemainnya tidak. Keunggulan terbesar De la Fuente dulu sering dianggap sebagai kelemahan: ia naik selangkah demi selangkah dan membawa banyak generasi ini bersamanya.

Mikel Merino bermain di bawah asuhannya dalam dua final Kejuaraan Eropa U-21 melawan Jerman, kalah pada tahun 2017 tetapi menang dua tahun kemudian. Mikel Oyarzabal, Dani Olmo, dan Fabian Ruiz juga menjadi bagian dari kesuksesan tahun 2019 itu dan kemudian menjadi juara Eropa senior.

Gelar internasional pertama Merino bersama De la Fuente datang lebih awal lagi, pada tahun 2015, ketika ia bermain bersama Rodri dan kiper Unai Simon dalam kemenangan 2-0 Spanyol atas Rusia di final Kejuaraan Eropa U-19 di Yunani.

Dari tokoh-tokoh senior itu hingga Pedri, Martin Zubimendi, dan Marc Cucurella, pemain yang menjadi bagian dari kampanye perak Olimpiade Spanyol di Tokyo, De la Fuente memiliki skuad yang sering kali tampak memahaminya bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.

"Hubungan kami melampaui hal yang murni profesional," ujarnya.

"Terutama dengan Rodri, kami sudah saling kenal selama lebih dari 10 tahun; sejak 2015 kami telah melalui banyak hal bersama.

"Jadi saya yakin bahwa dalam hidupnya, dan dalam hidup banyak pemain yang bersama saya hari ini, belum pernah ada pelatih yang bisa mengatakan hal-hal kepada mereka seperti yang saya katakan. Saya jamin itu."

Bagi De la Fuente, kedekatan itu bukan hanya sentimental, tetapi juga memberi mereka keunggulan.

"Mereka tahu bahwa apa yang saya katakan datang dari kejujuran, dari integritas, dan selalu demi kepentingan terbaik mereka, karena mereka mengenal saya," tambahnya.

"Ketika seseorang berbicara dari tempat kepercayaan, dari keyakinan itu, mengetahui bahwa itu akan sampai kepada Anda, menyentuh hati Anda, dan meyakinkan Anda, ya, saya pikir kami telah memenangkan banyak hal.

"Kemudian, di lapangan, curahkan semua bakat Anda untuk melayani ide itu. Dan untuk melayani rekan setim Anda, itulah tugas Anda."

Tugas mereka adalah pertama-tama melewati tim debutan Cape Verde, Arab Saudi, dan Uruguay di Grup H, saat mereka berusaha memenangkan gelar Piala Dunia kedua bagi negara tersebut setelah kemenangan Spanyol pada tahun 2010.