Piala Dunia Mengalir dalam Darah: Van Hecke Belanda Ingin Meneruskan Kesuksesan Pamannya
Pamannya, Jan Poortvliet, pernah menjadi bek Belanda di final tahun 1978, saat mereka kalah dari tuan rumah Argentina dalam pertandingan penentuan setelah perpanjangan waktu.
Van Hecke diperkirakan akan tampil pada hari Minggu di Dallas saat mereka memulai kampanye Grup F melawan Jepang, berpasangan dengan kapten Virgil van Dijk di lini tengah pertahanan.
“Perasaan bangga yang luar biasa,” katanya kepada wartawan. “Sungguh fantastis bisa berada di sini.”
Van Hecke mendapatkan kesempatan setelah Jurrien Timber dinyatakan absen dari turnamen karena cedera.
“Ini adalah impian saya, tapi ini juga impiannya,” ujar Van Hecke. “Sungguh disayangkan mimpinya hancur.”
Ironisnya, paman Van Hecke juga masuk ke tim Belanda pada tahun 1978 dalam keadaan yang hampir sama, setelah debut bersama Belanda dua minggu sebelum Piala Dunia dimulai dan dipilih sebagai anggota skuad yang agak di luar dugaan.
Tapi saat bek kiri pilihan utama Hugo Hovenkamp mengalami cedera, Poortvliet mendapat kesempatan bermain.
“Hugo sedang dalam performa terbaiknya, tapi begitulah yang kadang terjadi,” kata Poortvliet kepada televisi Belanda NOS.
Ia kemudian bermain dalam enam pertandingan di Argentina, menunjukkan kemampuannya sebagai bek kiri, bek kanan, dan gelandang bertahan.
Paman melatih keponakan
Poortvliet, yang kini berusia 70 tahun, telah melatih beberapa klub Belanda, pernah berada di Southampton selama enam bulan pada tahun 2008, dan sempat melatih Van Hecke di level di bawah 17 tahun.
“Bahkan saat itu dia memiliki tekad yang kuat untuk memanfaatkan setiap peluang,” ucapnya tentang keponakannya, yang kini bermain untuk Brighton & Hove Albion.
“Jan Paul begitu stabil, mustahil untuk digoyahkan, baik dalam sepak bola maupun kehidupan. Apa yang telah ia capai sangat mengesankan. Dia kadang bisa bermain buruk, tapi dia tetap fokus.”
Van Hecke mengatakan kepada wartawan pekan lalu bahwa ia memperkirakan awal yang sulit bagi Belanda melawan Jepang.
“Kami langsung menghadapi lawan yang kuat. Menang 1–0 di Wembley melawan Inggris mengatakan banyak hal. Menurut pendapat saya, rekan setim saya (Kaoru) Mitoma adalah pemain terbaik mereka.
“Saya sangat menyesal untuknya karena dia harus mundur dari Piala Dunia karena cedera dan akan melewatkan turnamen ini. Tapi bahkan tanpa Mitoma, Jepang memiliki tim yang kuat,” ujar Van Hecke.