Leicester Terdegradasi ke Kasta Ketiga Liga Inggris Sebuah Dekade Pasca Raih Gelar Juara Premier League
Sekumpulan Rubah itu harus meraih kemenangan pada pertandingan Selasa di Stadion King Power untuk memperpanjang peluang bertahan, namun gagal melakukannya, sempat unggul 2-1 sebentar sebelum disamakan skornya.
Ini merupakan degradasi kedua klub tersebut dalam dua musim berturut-turut dan yang ketiga dalam empat tahun terakhir.
Momen ini menjadi pengingat pahit yang tidak diinginkan bagi Leicester, yang pernah menjadi juara Premier League secara mengejutkan pada 2016.
Mereka memulai musim dengan hanya kalah satu kali dari 10 laga pertama di bawah asuhan mantan pelatih QPR, Marti Cifuentes, tapi performa mulai memburuk saat pergantian tahun.
Kekhawatiran memuncak ketika mereka dipotong enam poin pada Februari karena melanggar aturan pengeluaran EFL, yang membuat posisi mereka tepat satu strip di atas zona degradasi.
Cifuentes segera dipecat dan Gary Rowett mengambil alih, tapi hasil tetap buruk dengan hanya satu kemenangan liga sejak ia bertanggung jawab.
Kekalahan baru-baru ini melawan pesaing degradasi Portsmouth membuat mereka di ambang jurang, dengan para suporter yang marah hingga terlibat pertengkaran dengan gelandang Harry Winks di luar Stadion Fratton Park.
Kejatuhan dari Puncak Kemuliaan
Degradasi ini menutup dekade penuh gejolak sejak mereka mengejutkan Premier League dan seluruh sepak bola dunia.
Kemenangan yang menentang odds 5000/1 itu memungkinkan mereka lolos ke Liga Champions, dan mereka mencapai perempat final serta finis di posisi ke-12 liga pada musim berikutnya.
Pada 2021, mereka kemudian meraih Piala FA untuk pertama kalinya.
Namun, dua musim kemudian, mereka terdegradasi meski memiliki skuad berbakat dengan Jamie Vardy, James Maddison, dan Youri Tielemans.
Mereka bangkit kembali ke Premier League pada kesempatan pertama dengan memenangkan gelar Championship di bawah Enzo Maresca, tapi musim penuh tantangan menanti.
Maresca pergi bergabung dengan Chelsea sebelum musim lalu dimulai dan kombinasi Steve Cooper serta Ruud van Nistelrooy tidak mampu mencegah degradasi seketika.