Talisman Senegal Mane Mengatasi Duka untuk Menjadi Ikon Afrika

Talisman Senegal Mane Mengatasi Duka untuk Menjadi Ikon Afrika

Penyerang andalan Senegal Sadio Mane hampir saja melewatkan karir sepak bola yang gemilang jika ia mengikuti keinginan ayahnya yang telah meninggal.

Pemain berusia 33 tahun ini sempat dilarang bermain sepak bola saat kecil karena ayahnya seorang Muslim taat ingin anaknya fokus pada studi agama.

Mane yang kemudian menjadi ikon sepak bola Afrika mengungkapkan hal ini saat berbincang dengan pejabat senior Konfederasi Sepak Bola Afrika atau CAF.

Meski berbeda pandangan soal sepak bola pemain Afrika dua kali ini menekankan rasa sayangnya pada ayah dan betapa hancurnya ia saat berusia tujuh tahun ketika orang tuanya meninggal.

Saat saya masih kecil ayah selalu bilang betapa bangganya ia padaku. Ia pria berhati besar. Kematiannya berdampak besar bagi saya dan seluruh keluarga katanya Mane.

Saya bilang pada diri sendiri sekarang saya harus berusaha sebaik mungkin untuk membantu ibu. Itu hal sulit dihadapi saat usia masih sangat muda.

Tapi ia berhasil melanjutkan karir bermain di klub klub di Prancis Austria Inggris Jerman dan Arab Saudi serta membantu negaranya meraih Piala Afrika atau AFCON pertama kali pada 2002.

Setelah meniti karir di Metz dan Salzburg Mane bergabung dengan Southampton pada 2014 dan hat tricknya selama 176 detik melawan Aston Villa tetap menjadi yang tercepat di Liga Premier.

Setelah dua musim bersama Saints Mane pindah ke Liverpool berpasangan dengan bintang Mesir Mohamed Salah dan keduanya membawa banyak trofi ke Anfield.

Penghargaan itu termasuk Liga Champions Piala Super UEFA Piala Dunia Antarklub Liga Premier Piala FA dan Piala Liga.

Setelah enam musim bersama The Reds Mane satu musim di Bayern Munich kemudian bergabung dengan banyak bintang Afrika lain di Liga Pro Saudi yang menggiurkan.

Kenangan Bahagia

Final AFCON 2022 tanpa gol melawan Mesir di Yaounde berujung adu penalti dan Mane mengeksekusi tendangan yang membawa kejayaan bagi Senegal.

Kemenangan itu sangat membahagiakan karena Teranga Lions juga mencapai final AFCON sebelumnya tiga tahun lebih awal di Kairo tapi kebobolan setelah dua menit dan kalah 1-0 dari Aljazair.

Senegal gagal meraih gelar berturut turut pada 2024 tapi kalah lewat adu penalti dari tuan rumah dan juara akhirnya Pantai Gading di babak 16 besar.

Mereka tergabung dengan Botswana Republik Demokratik Kongo dan Benin di Grup D pada AFCON 2025 di Maroko yang dimulai hari Minggu.

Pertemuan dengan tim Kongo akan membangkitkan kenangan indah bagi Senegal yang bangkit dari ketinggalan dua gol untuk menang 3-2 di Kinshasa Oktober lalu dan lolos ke Piala Dunia 2026.

Mane tidak mencetak gol di ibukota DR Kongo tapi sebulan kemudian ia cetak dua gol dalam kemenangan 4-0 atas Mauritania di kandang yang mengamankan tiket Piala Dunia.

Senegal cetak 22 gol dalam 10 kualifikasi Piala Dunia dan Mane menjadi pencetak gol terbanyak dengan lima satu lebih banyak dari gelandang Tottenham Hotspur Pape Matar Sarr.

Seperti beberapa calon juara AFCON 2025 lainnya Senegal punya banyak pilihan saat pelatih kepala Pape Thiaw memilih penyerangnya.

Mane dari Al Nassr Nicolas Jackson dipinjamkan dari Chelsea ke Bayern Munich Iliman Ndiaye dari Everton dan Ismaila Sarr dari Crystal Palace hanyalah sebagian opsi.

Lalu ada Ibrahim Mbaye berusia 17 tahun dari juara Liga Champions Paris Saint Germain yang debut internasionalnya di laga persahabatan kalah dari Brasil bulan lalu.

Beberapa hari kemudian ia menjadi pencetak gol termuda Senegal dengan mencetak gol dalam kemenangan 8-0 atas Kenya di laga pemanasan AFCON lain.

Mane cetak hat trick melawan tim Afrika Timur itu pengingat tepat waktu bagi rival AFCON bahwa usia tidak mengurangi naluri predasinya.

Banyak pengamat menempatkan Senegal sebagai favorit juara lagi di Maroko dan jika berhasil Mane dipastikan berperan kunci.

Kami termasuk favorit dan terima itu. Saya ingin tim yang mendominasi kata Thiaw yang pernah bagian dari skuad Senegal mencapai perempat final Piala Dunia 2002.