Penggemar Maroko Terkejut dan Kecewa Saat Senegal Raih Gelar Juara Afrika
Penggemar Maroko meninggalkan Stadion Prince Moulay Abdellah di ibu kota Rabat dengan penuh kekecewaan saat Senegal mengejutkan tuan rumah dalam final Piala Negara Afrika hari Minggu dalam pertandingan sengit yang berlanjut ke perpanjangan waktu.
Banyak pendukung Atlas Lions sudah mulai meninggalkan tribun sebelum peluit akhir pada malam yang dingin dan basah di Rabat.
"Kami menangis di final melawan Tunisia pada 2004, dan malam ini skenario yang sama terulang. Itu sangat sulit diterima," kata Ismail Korradj, 30 tahun, tepat setelah peluit akhir.
Di sebuah kafe di pusat Rabat yang dihiasi bendera Maroko, kekalahan ini menjadi pukulan besar.
Namun, Maroko "kalah dengan kepala tegak", kata Laila Bourezma, 32 tahun. "Kekalahan ini meninggalkan kepahitan, tapi para pemain kami sudah memberikan segalanya."
Oumaima Boukrab, 34 tahun, mengatakan Maroko "menampilkan sepak bola indah sepanjang turnamen", menambahkan: "Para pemain sangat luar biasa. Kami menghormati mereka dan bangga pada mereka."
Tim Afrika Utara itu hampir saja mengakhiri kutukan 50 tahun dan mengangkat trofi ketika diberi penalti kontroversial di menit akhir.
Tapi Edouard Mendy dari Senegal dengan mudah menyelamatkan tendangan Panenka berani dari Brahim Diaz, setelah protes panjang dari kubu Senegal terhadap keputusan penalti yang membuat pertandingan terhenti hampir 20 menit karena para pemain meninggalkan lapangan.
Empat menit setelah perpanjangan waktu dimulai, Senegal mencetak satu-satunya gol pertandingan dan mengejutkan penggemar tuan rumah, menghancurkan harapan Maroko untuk memenangkan turnamen pertama kali sejak 1976.
Dua Negara Afrika yang Berjaya
Pendukung Senegal berkumpul di sekitar stadion setelah pertandingan berakhir untuk merayakan prestasi mereka, yang merupakan gelar kedua setelah 2021.
"Kami menang, tapi Maroko selalu bersam kami, jadi dua negara Afrika yang menang," kata pendukung Senegal berusia 42 tahun bernama Abdoul yang tidak menyebutkan nama belakangnya.
Pendukung Senegal merupakan kelompok yang lebih kecil dibandingkan puluhan ribu penggemar Maroko di total penonton 66.526 orang di stadion.
Tapi sorak sorai dan kegembiraan mereka atas kemenangan tetap terasa.
"Hari ini Senegal menang. Besok, Maroko akan menang," kata Salim Bom, pendukung Senegal lainnya. "Mereka saudara kami dan menyambut kami di sini."
"Kami sudah mempersiapkan pertandingan besar ini selama waktu yang sangat lama," kata pendukung Senegal berusia 43 tahun bernama Bassirou Gueye.
"Namun, ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh CAF, badan penyelenggara AFCON, terkait wasit."
Saat wasit asal Kongo, Jean-Jacques Ndala, memberikan penalti tepat di akhir pertandingan, sebagian besar pemain Senegal meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes.
Beberapa penggemar Senegal di ujung stadion yang berlawanan melempar kursi dan benda lain serta berusaha masuk ke lapangan.
Tapi mereka akhirnya dikendalikan oleh barikade besar polisi dan petugas keamanan, dan kemarahan mereka berubah menjadi kegembiraan serta ketidakpercayaan saat penalti diselamatkan setelah pertandingan dilanjutkan.
"Kami sangat senang telah menang, tapi Afrika yang menang," kata Adja Cisse, wanita Senegal berusia 30 tahun.
"Maroko dan Senegal adalah saudara. Piala ini milik Senegal dan Maroko. Hidup Afrika."