Pemain Eritrea Menghilang usai Laga Kualifikasi AFCON Diduga Mengungsi ke Negara Lebih Makmur

Pemain Eritrea Menghilang usai Laga Kualifikasi AFCON Diduga Mengungsi ke Negara Lebih Makmur

Tim Eritrea kembali ikut serta dalam kualifikasi AFCON tahun ini untuk pertama kalinya sejak turnamen 2008, setelah sebelumnya melarang skuadnya bepergian ke luar negeri karena sejumlah pemain tim usia di bawah 20 tahun kabur ke Uganda pada 2019.

"Sebagian besar adalah pemain cadangan," ujar Yakan kepada Reuters. Para pemain itu lenyap sejak pertandingan leg kedua pada 31 Maret, dan pelatih tim menyatakan keyakinannya bahwa mereka akan berupaya mencari peluang ekonomi di negara-negara yang lebih sejahtera.

"Saya rasa mereka tidak akan melanjutkan karir di sepak bola," tambah Yakan, eks bek Mesir yang pernah tampil di Piala Dunia 1990.

Eritrea meraih kemenangan 2-0 pada leg pertama di Maroko, karena pertandingan itu digelar di sana akibat negara tersebut tidak memiliki stadion yang memenuhi standar Confederation of African Football untuk laga internasional.

Negara tersebut, dengan skuad yang mencakup beberapa pemain dari klub di Australia, Jerman, Norwegia, dan Swedia, menyelesaikan agregat 4-1 setelah menang 2-1 di Stadion Nasional Somhlolo milik Eswatini pada 31 Maret.

George Ghebreslassie, eksil Eritrea yang mengelola organisasi nirlaba untuk mendukung pengungsi Eritrea, juga mengonfirmasi bahwa para pemain tersebut telah pergi.

"Hal seperti ini sering terjadi," kata Ghebreslassie, yang meninggalkan Eritrea pada 1999.

"Ini mencerminkan kondisi di Eritrea. Kami sempat berharap ada perubahan, tapi situasi tetap sama. Rakyat sudah putus asa di tanah air sendiri."

Menteri Informasi Eritrea Yemane Gebremeskel menolak berkomentar saat dihubungi Reuters. Juru bicara Federasi Sepak Bola Nasional Eritrea tidak merespons permintaan komentar melalui email.

"Para pemain ini miskin. Ini pengalaman pertama mereka naik pesawat," kata sumber dekat tim. "Mereka hanya mencari pekerjaan dan meningkatkan pendapatan."

Eritrea dipimpin Presiden Isaias Afwerki sejak kemerdekaan pada 1993, dan kelompok hak asasi manusia sering menyebut pemerintahannya sebagai rezim yang menekan.

Piala Afrika 2027 akan menjadi tuan rumah bersama Kenya, Tanzania, dan Uganda.