Korea Utara Berupaya Mengulangi Prestasi Muda di Piala Asia Putri

Korea Utara Berupaya Mengulangi Prestasi Muda di Piala Asia Putri

Tim sepak bola putri Korea Utara sempat absen selama empat tahun akibat pandemi Covid namun kini mereka termasuk unggulan juara Piala Asia setelah meraih sukses besar di level usia muda.

Pemain Korea Utara berhasil mengangkat trofi Piala Dunia U-17 Putri di Republik Dominika pada 2024 dan mempertahankannya di Maroko pada November tahun lalu.

Mereka juga meraih kemenangan di Piala Dunia U-20 Putri di Kolombia pada September 2024 sehingga memperoleh tiga gelar dunia dalam waktu kurang dari satu setengah tahun.

Sekarang tim senior mereka sedang mempersiapkan diri menghadapi Piala Asia Putri di Australia yang dimulai pada hari Minggu.

Mereka tergabung dalam grup pertama bersama Uzbekistan China dan Bangladesh serta dianggap sebagai salah satu favorit juara bersama tuan rumah dan Jepang.

"Saya rasa gaya sepak bola mereka berbeda dari banyak tim Asia lainnya mereka sangat tangguh secara fisik bisa berlari tanpa henti dan memiliki pemain berkualitas," ujar pelatih Jepang Nils Nielsen.

"Saya pikir mereka mendominasi sepak bola usia muda di kancah dunia Belum sepenuhnya tercapai di tim utama tapi sedang menuju ke sana."

Gerakan Pemuda

Korea Utara termasuk tim putri paling sukses di Asia dan telah memenangkan gelar kontinental tiga kali semua pada dekade 2000-an.

Momentum mereka terhenti saat dilarang ikut kualifikasi Piala Dunia 2015 karena tes doping gagal dan tidak bertanding sama sekali dari 2019 hingga 2023 akibat pandemi coronavirus.

Mereka tampil tanpa tanda kehilangan ritme saat kembali di Asian Games 2023 di Hangzhou China meraih medali perak setelah kalah di final dari Jepang.

Mereka hampir lolos ke Olimpiade Paris 2024 tapi gagal lagi melawan Jepang di babak play-off.

Lee Jung-woo dosen senior di Universitas Edinburgh yang mengkhususkan diri pada olahraga dan politik menyatakan bahwa pendirian Sekolah Sepak Bola Internasional Pyongyang pada 2013 telah membantu Korea Utara tetap kompetitif meski ada gangguan.

"Tempat ini melatih pemain pria dan putri secara sistematis sejak usia dini hingga sekolah menengah," katanya.

"Ini seperti asrama yang disponsori negara di mana mereka membina pemain sepak bola secara terstruktur."

Korea Utara kemungkinan akan memainkan kombinasi pemain muda dan berpengalaman saat tampil pertama kali di Piala Asia sejak menjadi runner-up pada 2010.

Bintang mereka adalah penyerang Kim Kyong Yong yang menjadi pencetak gol terbanyak di Asian Games dengan 12 gol dan mencetak sembilan gol dalam tiga pertandingan kualifikasi Piala Asia.

Latihan Politik

Beberapa pemain dari tim usia muda sukses Korea Utara telah naik ke tim senior tapi pelatih Jepang Nielsen yakin itu bukan jaminan sukses.

"Di level pemuda keuntungan besar bagi mereka karena banyak waktu bersama bisa berlatih bermain dengan anak laki-laki sepanjang waktu sehingga mungkin lebih siap di sana," ujar pelatih asal Greenland itu.

"Tapi langkah selanjutnya bagi mereka adalah soal tim utama dan bagaimana menyesuaikannya di panggung internasional."

Berlaga di Australia kemungkinan tidak akan mengganggu pemain Korea Utara yang menerima "latihan politik" untuk menghadapi berada di negara asing menurut Lee dari Universitas Edinburgh.

Ia menyatakan pemerintah Korea Utara memandang olahraga sebagai "salah satu saluran terbatas untuk berinteraksi dengan komunitas internasional".

Hasil pertandingan akan diamati dengan saksama di Pyongyang di mana Lee menyebut atlet profesional pria dan putri diperlakukan dengan hormat.

"Jika mereka memenangkan kompetisi itu akan dimanfaatkan sebagai propaganda politik di dalam negeri," katanya.

"Pada saat yang sama Korea Utara akan menganggapnya sebagai pencapaian lain dalam diplomasi olahraga karena kemenangan semacam itu menarik perhatian internasional yang positif."