Ketua Federasi Sepak Bola Italia Mundur usai Timnas Kembali Gagal ke Piala Dunia

Ketua Federasi Sepak Bola Italia Mundur usai Timnas Kembali Gagal ke Piala Dunia

Gravina tiba di markas FIGC di Roma pada pagi hari, dan pada sore hari, rapat penting dengan dewan pengurus digelar.

Rapat tersebut, yang awalnya direncanakan sebagai evaluasi kekalahan melawan Bosnia, berubah menjadi pembahasan krusial mengenai masa depan kepresidenan federasi.

Selama rapat, Gravina berdialog dengan ketua Serie A, Serie B, dan Lega Pro, serta menyampaikan keputusannya yang telah final.

Dengan demikian, ia mengakhiri masa jabatannya yang dimulai sejak 2018, dan secara resmi membuka babak baru dalam pengelolaan sepak bola Italia.

Rapat dewan federal yang dijadwalkan minggu depan dibatalkan: pemilihan jabatan baru akan dilaksanakan pada 22 Juni di Roma.

Pernyataan Resmi FIGC

Hari ini, rapat digelar di markas FIGC di Roma yang melibatkan Presiden Gabriele Gravina dan ketua berbagai cabang federasi. Pada awal rapat, Gravina memberitahu perwakilan utama Serie A, Ezio Maria Simonelli; Serie B, Paolo Bedin; Lega Pro, Matteo Marani; Liga Amatir Nasional, Giancarlo Abete; Asosiasi Pemain Sepak Bola Italia, Umberto Calcagno; serta Asosiasi Pelatih Sepak Bola Italia, Renzo Ulivieri, bahwa ia mengundurkan diri dari posisi yang dijabatnya sejak Februari 2025 dan memanggil Majelis Elektif Luar Biasa FIGC pada 22 Juni di Roma. Tanggal tersebut ditetapkan sepenuhnya sesuai dengan anggaran dasar federasi dan akan memastikan bahwa tata kelola baru dapat menyelesaikan prosedur pendaftaran untuk kejuaraan profesional mendatang.

Selama rapat, Gravina juga mengucapkan terima kasih kepada badan federasi atas dukungan mereka baik secara terbuka maupun pribadi, dan memberitahu para ketua bahwa ia bersedia hadir pada 8 April pukul 11:00 CEST di hadapan Komite VII Bidang Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan, dan Pendidikan Dewan Perwakilan Rakyat untuk melaporkan kondisi sepak bola Italia.

Di sana, Presiden Gravina akan menyajikan, sekomprehensif mungkin, laporan mengenai kekuatan dan kelemahan olahraga tersebut, termasuk membahas beberapa isu yang telah diungkit selama konferensi pers setelah pertandingan timnas di Zenica pada Selasa, 31 Maret. Terhadap hal ini, Gravina menyatakan penyesalannya atas penafsiran komentarnya mengenai perbedaan antara olahraga amatir dan profesional, karena tidak pernah dimaksudkan untuk menyinggung disiplin apa pun. Sebaliknya, komentar itu merujuk pada perbedaan regulasi internal dan eksternal, misalnya keberadaan di tata kelola beberapa federasi dengan liga yang memiliki otonomi sendiri dan sifat korporat klub sepak bola profesional, yang harus mematuhi peraturan nasional dan internasional, tidak seperti klub amatir."