Kemarahan Meletus Karena Upaya Meningkatkan Prestasi Sepak Bola Malaysia Malah Gagal Total
Upaya ceroboh untuk meningkatkan prestasi sepak bola Malaysia dengan merekrut pemain keturunan asing justru berakhir buruk menurut para pengkritik dan memicu refleksi mendalam serta seruan untuk lebih fokus pada bakat lokal.
Sepak bola Malaysia dilanda kekacauan baru pada Rabu ketika seluruh jajaran eksekutif badan pengelola lokal mengundurkan diri.
Ini merupakan perkembangan terbaru dalam kisah panjang seputar tujuh pemain yang dinaturalisasi dan diduga menggunakan dokumen palsu untuk bergabung dengan tim nasional.
FIFA menuduh asosiasi sepak bola Malaysia (FAM) memalsukan akta kelahiran guna mengklaim hubungan keturunan dengan negara Asia Tenggara tersebut yang sebenarnya tidak ada dan menjadi syarat untuk pemilihan tim nasional.
Lembaga pengatur sepak bola dunia itu menangguhkan para pemain dan mengenakan denda lebih dari $450000 pada FAM.
FAM dan para pemain mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga yang memberikan penangguhan larangan bermain selama 12 bulan hingga kasus ditinjau kembali akhir Februari.
Malaysia sangat gila sepak bola namun negara itu belum pernah lolos ke Piala Dunia dan berada di peringkat 121 satu posisi di atas rival regional Indonesia.
Penggemar Malaysia yang sudah lama menderita punya harapan besar ketika otoritas sepak bola memulai program naturalisasi pada 2018 jelang kualifikasi Piala Dunia 2022 di Qatar.
Mohamadou Sumareh yang lahir di Gambia debut untuk tim nasional pada 2018 dan beberapa pemain asal luar negeri lainnya menyusul.
Selama itu 23 pesepak bola asing mendapatkan kewarganegaraan pada akhir 2025.
Tapi Malaysia gagal lolos ke 2022 dan tidak lebih baik dalam upaya mencapai Piala Dunia tahun ini di Amerika Utara.
Dengan tambahan skandal tersebut banyak warga di negara berpenduduk 35 juta jiwa ini merasa bingung dan marah.
"Ini sangat memalukan" kata Ramkarpal Singh seorang pengacara dan anggota parlemen terkemuka kepada parlemen setelah sepak bola Malaysia menjadi berita buruk.
"Ketika kita melihat perkembangan sepak bola di negara ini turun ke tingkat seperti ini sungguh sangat menyedihkan.
"Masalah ini telah merusak reputasi dan nama baik negara" tambah Singh.
Masalah dari Tingkat Dasar
Pengkritik dan pakar sepak bola yakin bahwa menghentikan ketergantungan pada pemain asal asing dan menangani isu dari akar rumput adalah jalan keluar.
"Sepak bola Malaysia tidak akan berada dalam situasi seperti ini jika ada pengembangan tingkat dasar yang terstruktur melibatkan semua pihak terkait" ujar Haresh Deol seorang jurnalis pemenang penghargaan.
"Untuk maju kita harus sangat memperhatikan tingkat dasar yaitu mendapatkan pelatih yang tepat bermain cukup pertandingan dan infrastruktur yang layak" katanya kepada AFP.
Pengkritik menyatakan terlalu sedikit akademi sepak bola penuh waktu untuk bakat lokal.
Shazwan Wong yang melatih remaja di klub sepak bola Kepong sebuah klub berkembang di ibu kota yang ikut turnamen internasional mengatakan pemain Malaysia kalah dari rival regionalnya.
"Setiap tahun ada pemain baru yang muncul untuk mewakili tim nasional" katanya kepada AFP.
"Pertanyaannya apakah mereka cukup baik untuk bersaing di Asia melawan Korea atau Jepang Apakah mereka mampu bertanding di level dunia melawan Brasil atau Argentina"
"Kita tidak akan kehabisan pemain" kata Shazwan.
"Yang penting adalah kualitasnya."
Tidak Perlu Orang Luar
Ivan Yusoff menyatakan bahwa pemain naturalisasi tidak sepenuhnya menghargai arti mewakili negara.
"Bagiku program naturalisasi ini bahkan tidak masuk akal" ujar Yusoff yang melatih pemain di sekitar kompleks perumahan Sri Melaka yang luas merupakan hunian berpenghasilan rendah dekat pusat kota.
Sepak bola telah meninggalkan jejak di seluruh perumahan padat ini yang telah melahirkan setidaknya delapan pemain nasional termasuk mantan penyerang internasional legendaris Safee Sali.
"Mengapa kita butuh orang luar Kita lah yang ingin membuat negara ini bangga" kata Yusoff.
Pada sore hari kerja di turnamen pemuda di Selangor FC salah satu klub tersukses di negara itu skandal pemalsuan dokumen adalah hal terakhir yang dipikirkan para pemain muda.
Gurneeshan Singh Josen berusia 12 tahun berharap suatu hari nanti bermain untuk Malaysia di panggung terbesar.
"Jika saya terus bekerja lebih keras mendorong diri hingga batas saya pikir di masa depan saya bisa bermain untuk tim nasional" katanya.
"Dulu saya tidak tertarik sepak bola Tapi sesuatu berubah ketika saya menonton Piala Dunia saat saya melihat Lionel Messi."
"Kemudian saya tahu ini adalah passion saya" katanya.