Hansi Flick di Barcelona: Lima Gelar Juara dan Pendekatan Bermain yang Seru Lengkap dengan Satu Kelemahan
Saat Xavi hengkang dari Barca dengan cara yang kurang terhormat, muncul kekhawatiran besar terhadap tim yang seolah didominasi oleh pemain senior yang sudah melewati puncak performa mereka serta talenta muda yang masih kurang pengalaman.
Namun, kedatangan Flick membawa semangat baru, ia memotivasi pemain seperti Raphinha, Robert Lewandowski, dan Frenkie de Jong, sambil memberikan peran lebih besar kepada bibit muda seperti Lamine Yamal, Fermin Lopez, dan Pau Cubarsi, sehingga tim mulai meraih kemenangan demi kemenangan.
Ia telah berhasil lima kali. Pada musim perdananya, Flick membawa pulang gelar LaLiga, Copa del Rey, serta Spanish Super Cup, ketiganya diraih dengan mengalahkan rival abadi mereka Real Madrid melalui pertandingan sengit yang tak terlupakan oleh pendukung Barca, seperti kemenangan 5-2 untuk trofi pertama mereka di Super Cup Jeddah.
Sedangkan di tahun keduanya menangani tim, ia menambah dua gelar lagi: Super Cup lainnya dengan skor 3-2 atas Madrid, dan gelar liga kedua.
Filosofi Serangan Total
Gaya bermain menyerangnya, di mana lini belakang sering maju hingga garis tengah untuk memungkinkan penyerang menekan secara kolektif dari posisi tinggi, telah menjadi ciri khasnya. Pendekatan ini berisiko tinggi, mungkin terlalu berisiko, tapi terbukti sangat efektif di kompetisi domestik Spanyol.
Akan tetapi, sejumlah pakar yakin bahwa dengan skema ini, ia takkan pernah juara Liga Champions.
Pada percobaan pertamanya, ia membawa tim hingga semifinal sebelum tersingkir oleh Inter Milan, dan di kesempatan kedua mencapai perempat final hingga dihentikan Atletico Madrid.
Tetapi Flick tetap teguh pada sistem dan keyakinannya.
Ia terus memanfaatkan winger murni, sesuai tradisi Barca sejak era Cruyff. Meski begitu, ia berhasil mengembangkan konsep tiki-taka, yakni umpan pendek dan kombinasi cepat, dengan menambahkan elemen langsung, meskipun harus beralih dari formasi 4-3-3 ke 4-2-3-1.
Bagaimanapun juga, ia telah mengubah Barca menjadi mesin kemenangan, dengan rata-rata 2.6 gol dicetak per laga dan hanya 0.91 gol kebobolan, meski catatan di Eropa menjadi satu-satunya noda.
Namun, noda tersebut tak mengurangi fakta bahwa setelah dua tahun memimpin, ia sudah mengoleksi lima trofi.