Antonio Rudiger, Bek Timnas Jerman, Senang Dianggap Sebagai Penjahat di Piala Dunia
Rudiger, yang baru saja mendapat perpanjangan kontrak satu tahun di Real Madrid pada Selasa lalu, kerap menjadi pusat perhatian berkat gaya bermain agresifnya yang kerap memprovokasi lawan atau menunjukkan protes.
Ia mengaku menghargai kritik yang membangun, namun menilai banyak pihak kerap membesar-besarkan tindakannya hanya untuk menggambarkannya sebagai penjahat.
"Yang jelas saya menghormati opini," kata Rudiger saat konferensi pers. "Saya tidak main-main dengan itu dan saya pernah meminta maaf untuk hal semacam itu. Namun sebenarnya tidak banyak yang perlu dijelaskan. Kritik yang serius selalu saya terima dengan baik."
"Tapi kita perlu bertanya-tanya, mendengar begitu banyak komentar itu justru menghasilkan klik di media sosial. Saya justru melihat sisi positifnya. Nama saya jadi banyak dicari. Saya tidak bisa menjelaskan mengapa. Kadang berita buruk adalah berita baik."
Selama bertahun-tahun, Rudiger kerap terlibat dalam berbagai kontroversi baik bersama klub maupun timnas, salah satunya saat ia dihukum larangan bermain enam laga akibat melempar objek ke wasit di final Copa del Rey 2025 di Spanyol. Hal itu membuat Direktur Timnas Jerman, Rudi Voller, memberikan kritik pedas.
Ia juga sempat tampak mengejek pemain Jepang di laga fase grup Piala Dunia 2022 dengan cara mengejar bola menggunakan lari angkat lutut yang kocak, namun banyak pengamat menilai tindakannya itu arogan dan tidak menghormati lawan.
Dalam beberapa bulan terakhir, bek ini kehilangan tempat inti di lini belakang Jerman yang kini diisi Jonathan Tah. Namun Rudiger tetap nyaman menjadi pemain cadangan menjelang laga kedua Grup E Piala Dunia melawan Pantai Gading pada Sabtu ini.
Mereka membuka kampanye dengan kemenangan telak 7-1 atas Curacao awal pekan ini.
Saat ditanya apakah pemain fisik seperti Sergio Ramos di Spanyol atau Pepe dari Portugal mendapat perlakuan berbeda dibandingkan pemain dengan gaya serupa di Jerman, Rudiger mengaku dirinya kerap menjadi sasaran di media sosial atas aksinya.
"Sejujurnya saya kurang paham," ujar Rudiger. "Di dunia maya saya selalu dianggap sebagai tokoh jahat lagi. Di Spanyol, aksi-aksi seperti itu justru dirayakan. Banyak pertandingan di mana saya melakukan tekel meluncur yang bagus dan ada sekelompok fans yang meneriakkan nama saya. Biarkan media sosial jadi media sosial, kita tetap di dunia nyata."